Langsung ke konten utama

pengamplasan pada kayu

Untuk memperoleh hasil finishing yang baik pada kayu, maka sebelum proses finishing dimulai diperlukan pengamplasan yang baik. Tujuan dari pengamplasan adalah untuk mendapatkan suatu permukaan kayu yang rata, halus dan bersih. Proses pengamplasan harus dilakukan secara benar supaya bisa menghilangkan garis-garis bekas pisau atau mesin dan noda-noda (biasanya bekas-bekas lem) yang timbul pada saat proses pembuatan mebel. Proses pengamplasan ini sangat penting karena suatu noda atau goresan yang tertinggal pada permukaan kayu akan kelihatan semakin jelas sesudah dilakukan proses finishing. Kenyataannya seringkali ditemui masalah finishing yang terjadi karena masalah pengamplasan yang kurang sempurna. Yang lebih parah lagi adalah seringkali masalah pengamplasan itu baru ditemukan setelah proses finishing dikerjakan, sehingga untuk memperbaikinya harus dilakukan pengamplasan lagi dan poses finishing ulang. Hal ini tentu saja merupakan pemborosan yang sedapat mungkin dihindari. Suatu produk seharusnya dipastikan sudah benar-benar memenuhi kualitas yang diinginkan sebelum masuk ke proses finishing.



Supaya kualitas amplasan selalu dapat dijaga dan memenuhi standard kualitas yang diinginkan maka proses pengamplasan juga harus dikerjakan sesuai dengan proses yang benar. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan pada proses pengamplasan:

1.      Lakukan pengamplasan secara bertahap mengunakan amplas dari grade amplas kasar ke grade amplas yang halus

Setiap pengamplasan sebenarnya selalu akan meninggalkan garis-garis goresan bekas amplas. Besar kecilnya goresan itu tergantung dari grade amplas yang dipakai. Untuk menghilangkan goresan bekas amplas itu maka diperlukan pengamplasan berikutnya dengan amplas yang lebih halus sampai diperoleh suatu permukaan dengan goresan yang tidak akan kelihatan lagi pada proses finishing. Pemilihan grade amplas pada suatu tahap pengamplasan tidak boleh melompat terlalu jauh dari grade amplas yang dipakai sebelumnya, karena akan mengakibatkan hasil yang tidak maksimal. Kayu yang keluar dari mesin sebaiknya diamplas dengan amplas yang kasar dimulai dengan grade amplas 80 atau 100, setelah itu dilanjutkan dengan pengamplasan menggunakan amplas grade 120 atau 150, diteruskan dengan pengamplasan menggunakan amplas dengan grade 180, kemudian apabila diperlukan dilanjutkan pengamplasan dengan grade 240. Pengamplasan terakhir sebelum proses finishing biasanya cukup sampai dengan menggunakan amplas dengan grade 180 atau 240.

2.      Usahakan sedapat mungkin pengamplasan dilakukan dengan mesin amplas.

Pada saat ini telah tersedia mesin-mesin amplas yang akan sangat membantu supaya proses pengamplasan dapat dilakukan dengan cepat dan konsisten. Mesin-mesin amplas itu telah dibuat untuk mempermudah pengamplasan sesuai dengan bentuk barang yang akan diamplas. Misalnya wide belt sander atau stroke sander untuk pengamplasan panel-panel yang besar. Untuk bentuk-bentuk yang rumit juga telah tersedia mesin-mesin amplas yang lain seperti spindle sander, brush sander, edge sander dan mesin-mesin yang lain. Untuk pekerjaan pengamplasan dengan skala kecil atau untuk pekerjaan touch up (koreksi terhadap pekerjaan yang kurang sempurna) juga telah tersedia mesin amplas tangan (hand sander). Pekerjaan pengamplasan dengan tangan seharusnya hanya dikerjakan untuk bagian-bagian yang memang tidak bisa dikerjakan dengan mesin amplas.



3.      Perhatikan juga jenis-jenis kayu

Ada banyak jenis-jenis kayu yang masing-masing jenisnya memilki kekerasan yang berbeda-beda yang kemudian membutuhkan cara pengamplasan yang sedikit berbeda juga. Kayu-kayu yang lunak seperti kayu aghatis, pinus atau sengon akan membuat amplas menjadi lebih cepat tumpul dibandingkan dengan kayu-kayu keras seperti kayu mahoni, jati atau mindi. Sifat-sifat dari tiap jenis kayu yang unik itu harus selalu dikenali supaya dapat melakukan proses pengamplasan yang optimal.

4.      Sedapat mungkin lakukan pengamplasan pada saat barang berupa komponen

Pengamplasan pada komponen akan jauh lebih cepat dan lebih mudah dikerjakan daripada saat barang sudah selesai dirakit dan menjadi suatu barang yang sudah jadi. Karena itu sebaiknya pengamplasan dilakukan secara sempurna dahulu sebelum komponen itu akan dirakit. Pengamplasan pada saat barang tersebut sudah jadi sebaiknya hanya merupakan pekerjaan touch up saja yaitu pekerjaan-pekerjaan kecil untuk merevisi kesalahan-kesalahan pengerjaan seperti, membersihkan lem, mengamplas dempul, dan lain-lain..

5.      Gunakan alat bantu untuk dapat mengecek hasil amplasan

Untuk menghindari pemborosan karena pengamplasan yang kurang sempurna, sebaiknya dilakukan pengecekan yang baik pada barang sebelum dilanjutkan ke proses berikutnya. Untuk dapat melihat dengan baik dapat digunakan bantuan lampu sorot pada saat mengecek permukaan kayu. Ada juga yang menggunakan thinner atau stain encer yang dioleskan ke permukan kayu untuk membantu melihat adanya goresan atau noda pada kayu.



6.      Selalu koordinasikan proses pengamplasan dengan proses finishing.

Proses pengamplasan selalu berkaitan dengan hasil finishing yang diperoleh. Proses pengamplasan yang kurang sempurna akan selalu berakibat dengan timbulnya masalah pada proses finishing. Karena itu setiap saat mencoba suatu sistem pengamplasan yang berbeda sebaiknya kemudian selalu dilihat efeknya pada proses finishing, sebaliknya apabila terjadi masalah finishing yang merupakan akibat dari pengamplasan yang kurang sempurna harus selalu diinformasikan ke bagian pengamplasan. Dengan cara koordinasi yang baik dan saling belajar maka akan dapat ditemukan suatu proses pengamplasan dan proses finishing dengan hasil yang optimal.