Langsung ke konten utama

pengamplasan pada proses finishing

Selain dibutuhkan pada persiapan sebelum finishing, pengamplasan juga dibutuhkan pada proses finishing. Setiap lapisan film (sealer, top coat, enamel, base coat) selalu membutuhkan pengamplasan yang baik sebelum dilanjutkan dengan aplikasi bahan finishing berikutnya di atasnya. Pengamplasan pada lapisan film berfungsi terutama untuk menghaluskan, meratakan dan membersihkan permukaan film sehingga menghasilkan permukaan yang bersih, rata dan halus. Pada lapisan coating  yang bersifat termoseting (yang tidak terlarut kembali) seperti: PU, AC, Waterbased atau UV coating, maka pengamplasan juga berfungsi untuk memberikan goresan-goresan pada permukaan lapisan film yang diperlukan untuk membentuk ikatan yang baik dengan lapisan coating diatasnya. Pada coating yang bersifat termoplastis (NC, Vynil, Acrylic) dimana lapisan film yang sudah kering akan lumer dan terlarut lagi dengan aplikasi coating di atasnya, maka pengamplasan yang tidak terlalu sempurna seringkali tidak menjadi masalah. Namun pada lapisan coating yang bersifat termoseting seperti:  PU, AC, Waterbased atau UV coating, dimana lapisan coating yang sudah kering tidak dapat larut lagi, maka pengamplasan yang tidak sempurna bisa menimbulkan masalah finishing yang lebih serius. 

Beberapa masalah akibat dari pengamplasan yang tidak sempurna antara lain adalah : permukaan finishing yang tidak rata, permukaan finishing seperti kulit jeruk (orange peel), adanya goresan amplas yang nampak pada permukaan finishing dan bahkan masalah adhesi pada lapisan finishing. Adanya goresan amplas yang nampak pada permukaan finishing adalah akibat dari goresan amplas yang terlalu dalam yang tidak dapat tertutupi oleh lapisan coating diatasnya. Sedangkan orange peel disebabkan dari aplikasi coating yang di atas lapisan film yang tidak diamplas sehingga lapisan coating diatasnya tidak dapat membentuk flow yang baik. Permukaan film jenis termoseting yang tidak diamplas juga bersifat licin sehingga pada saat dilapisi dengan coating akan mengakibatkan masalah adhesi pada lapisan finishing. 

Proses pengamplasan merupakan salah satu proses yang penting dalam rangkaian proses finishing dan harus dilakukan secara benar. 

Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan pengamplasan yang baik.

  • Pastikan bahwa lapisan coating benar-benar sudah kering (mencapai kering sanding) pada saat pengamplasan dilakukan.

Pada saat permukaan kayu dilapisi dengan coating, maka bulu-bulu kayu akan naik dan mengeras bersamaan dengan keringnya lapisan coating. Salah satu tujuan dari pengamplasan adalah untuk memotong bulu-bulu dari kayu (wood fiber) yang akan naik dan mengeras tersebut. Pada saat lapisan coating yang belum kering, maka bulu-bulu kayu yang ada belum mengeras sehingga tidak dapat terpotong secara maksimal. Bulu-bulu kayu yang tidak terpotong akan berdiri lagi pada aplikasi coating berikutnya dan akan mengakibatkan permukaan finishing yang kasar.

Permukaan coating yang belum kering juga akan membuat lapisan coating melekat pada permukaan amplas, sehingga amplas menjadi cepat habis dan boros. Coating yang melekat pada amplas juga akan menghasilkan butiran padatan yang besar pada amplas yang akan beresiko menimbulkan goresan yang dalam dan besar pada permukaan coating. Lapisan coating yang sudah kering akan keras dan dapat diamplas dengan relatif mudah dan jauh lebih cepat dengan hasil yang maksimal.

  • Pergunakan jenis dan grade amplas yang sesuai.

Lapisan coating pada permukaan hanyalah merupakan satu lapisan tipis saja (sekitar 1 mill untuk tiap layer coating). Lapisan coating juga merupakan bahan yang mudah menempel pada permukaan amplas, apalagi apabila lapisan coating  tersebut belum kering sempurna. Karena itu pengamplasan pada lapisan coating membutuhkan amplas dengan jenis khusus yang berbeda dengan amplas yang digunakan untuk pengamplasan pada kayu mentah. Amplas yang digunakan untuk pengamplasan pada lapisan coating adalah amplas jenis open coat yang dilengkapi dengan sanding agent (bubuk yang berfungsi untuk mengurangi panas yang timbul dari gesekan amplas dengan lapisan coating). Sedangkan backing yang digunakan adalah dengan backing kertas yang fleksibel.

Sedangkan grade yang dipakai biasanya mulai dari grade #280 sampai dengan grade #400 (standard grade amplas U.S.). Untuk finishing dengan bahan coating yang bersifat termoplastis (nitrocellulose system), maka amplas yang biasa digunakan adalah grade #280 untuk sealer dan #360 atau #400 untuk pengamplasan sebelum top coat terakhir.  

Tetapi untuk finishing dengan coating jenis termoseting, maka diperlukan amplas dengan grade yang lebih halus supaya dapat menghasilkan permukaan film yang rata dan halus. Amplas grade #360 atau #400 dibutuhkan untuk pengamplasan sealer sampai dengan top coat terakhir. Untuk finishing dengan gloss yang tinggi, maka grade amplas yang lebih tinggi mungkin masih dibutuhkan pada pengamplasan sebelum aplikasi top coat terakhir. Karena pengamplasan juga dibutuhkan juga untuk meratakan permukaan, maka seringkali kita memerlukan 2 tahap pengamplasan pada tiap proses. Pengamplasan diawali dengan menggunakan grade yang lebih rendah (#280 atau #240) kemudian diikuti dengan pengamplasan menggunakan grade #400 atau grade yang lebih tinggi sebelum dilapisi dengan coating berikutnya.

  • Gunakan mesin amplas untuk bidang-bidang yang datar

Untuk mempercepat pekerjaan, maka pengamplasan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin amplas tangan (hand sander). Pengamplasan dengan mesin amplas tangan ini hanya boleh dilakukan pada permukan yang datar pada saat  lapisan film yang terbentuk sudah cukup tebal. Pengamplasan dengan mesin harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak terjadi oversanding (pengamplasan yang terlalu banyak hingga menghabiskan lapisan finishing). Pengamplasan dengan hand sander ini tidak boleh dipaksakan karena resiko oversanding, dan biasanya diikuti dengan pengamplasan dengan tangan untuk memastikan semua permukan sudah teramplas dengan baik.

pengamplasan dengan mesin untuk permukaan yang datar

  • Gunakan scotch brite, untuk permukaan dan bentuk yang tidak rata

Untuk pengamplasan pada bidang-bidang yang tidak rata dan bentuk-bentuk yang komplek, maka dibutuhkan amplas yang lebih fleksibel. Untuk itu sudah tersedia scocth brite atau sponge sand. Scotch brite dibuat dari bahan fleksibel yang dilumuri dengan abrasive, sedangkan sponge sand adalah amplas dengan backing spon yang lentur. Kedua jenis amplas tersebut tersedia dalam beberapa grade dan bisa digunakan unuk melakukan pengamplasan pada bentuk-bentuk yang komplek. 

scotch brite untuk pengamplasan pada bentuk yang kompleks

  • Penggunaan wash coat

Untuk tujuan mempercepat pengamplasan pada kayu maka bisa digunakan wash coat. Wash coat adalah suatu sealer yang encer yang diaplikasikan sebagai lapisan clear coat yang pertama. Wash coat ini bisa diaplikasikan pada pertama kali proses finishing sebelum aplikasi setain atau stain sesudah aplikasi stain. Aplikasi wash coat akan membuat sebagian besar bulu-bulu kayu naik dan mengeras, kemudian  setelah dilanjutkan dengan pengamplasan yang sederhana dan cepat (scuff sanding) maka sebagian besar bulu-bulu kayu itu sudah dapat terpotong dengan baik. Karena lapisan wash coat ini encer maka akan kering lebih cepat dan dapat diamplas dengan lebih mudah dibandingkan dengan lapisan sealer yang tebal. 

Pemakaian wash coat ini maka akan membuat pengamplasan sealer di atasnya menjadi lebih mudah dan akan lebih cepat menghasilkan permukaan yang halus karena sebagian besar bulu-bulu kayu sudah terpotong pada pengamplasan wash coat. Pengamplasan selanjutnya pada lacquer atau top coat  ditujukan untuk membuat lapisan film menjadi lebih rata dan dapat memberi ikatan dengan lapisan top coat di atasnya dan untuk menghindari terjadinya lapisan film yang seperti kulit jeruk (orange peel). 

  • Lakukan wet sanding apabila diperlukan

Untuk memperbaiki kualitas pengamplasan, maka bisa dilakukan pengamplasan secara basah (wet sanding). Wet sanding adalah pengamplasan yang dilakukan menggunakan dengan menggunakan cairan untuk mengurangi timbulnya panas pada saat penamplasan. Cairan yang dipakai itu biasanya sejenis minyak (mineral spirit dengan sedikit pelumas) yang disebut cutting oil, rubbing oil atau rubbing lubricant. Cairan untuk pengamplasan bisa juga dibuat dari  air dengan ditambahkan sedikit sabun untuk membuat permukaan sealer atau lacquer menjadi agak licin. Amplas yang digunakan untuk wet sanding ini adalah amplas jenis waterproof yang tahan terhadap cairan. Amplas ini tersedia dari grade yang rendah mulai dari #1 sampai dengan #1500, namun yang sering digunakan untuk pengamplasan pada proses finishing adalah grade #400 sampai dengan #600. Grade #800 sampai #1500 biasanya digunakan pada proses rubbing dan polishing. Yaitu proses pengamplasan dan pemolesan yang dilakukan pada lapisan finishing sebagai akhir dari proses finishing untuk menghasilkan permukaan yang lebih rata dan halus dengan gloss yang sangat tinggi.


pengamplasan basah untuk finishing full gloss