Langsung ke konten utama

Bleaching untuk kayu

Pada suatu proses finishing kadang-kadang kita menemui keadaan dimana warna akhir yang dikehendaki lebih muda dibandingkan dengan warna dasar kayu mentahnya. Pada keadaan seperti ini maka kita memerlukan suatu proses yang disebut dengan bleaching (proses pemutihan kayu secara kimia).  Proses pemutihan pada kayu ini sebenarnya mirip dengan proses pemutihan pada pakaian atau pada rambut, cuma dengan kekuatan yang berbeda. Bleaching ini terutama banyak dipakai untuk memutihkan kayu atau veneer dengan pola serat yang indah tetapi memiliki warna dasar yang tua seperti crocth mahogany, walnut, jati, sonokeling dll.

Bahan kimia yang dipakai untuk proses bleaching dikenal dengan nama bleaching agent. Bleaching agent yang paling populer dan dikenal di industri mebel adalah hidrogen peroksida (hydrogen proxide) atau H2O2 yang biasa dikenal sebagai bahan A. Hidrogen peroksida bisa dipakai sendirian untuk proses bleaching, tetapi untuk menghasilkan warna yang lebih putih maka biasanya diperlukan bahan kimia lain yang berfungsi untuk menetralkannya. Bahan yang dipakai biasanya sodium hidroksida atau ammonium hidroksida yang biasa juga disebut sebagai bahan B. Bahan-bahan tersebut adalah larutan basa yang akan menetralkan larutan hidrogen peroksida yang bersifat asam. Ada juga yang menggunakan bubuk soda ash (natrium bikarbonat) sekitar 5% yang dicampurkan langsung ke dalam larutan hidrogen peroksida. Bahan A dan B  tersebut apabila dicampur akan segera terjadi reaksi, karena itu, maka pencampuran kedua bahan harus dilakukan sesaat sebelum di aplikasikan untuk bleaching pada permukaan kayu. Cara yang lebih mudah dilakukan adalah dengan mengaplikasikan secara bergantian. Bahan B dioleskan dulu ke permukaan kayu, menyusul kemudian bahan A dioleskan ke permukaan kayu pada saat permukaan kayu masih basah dengan bahan B. Dengan cara ini akan terjadi oksidasi dan netralisasi sehingga akan didapatkan warna kayu yang  putih.

Apabila bleaching menggunakan hidrogen peroksida saja, maka warna kayu yang dihasilkan akan sedikit kekuning-kuningan tidak bisa seputih bleaching dengan 2 komponen. Sebenarnya ada juga bahan-bahan yang lain yang bisa dipergunakan untuk bleaching yaitu asam oksalat dan klorin. Asam oksalat ini lebih banyak dipakai untuk menghilangkan blue stain pada kayu. Kedua bahan tersebut relatif lebih aman dibandingkan dengan hidrogen peroksida, tetapi kekuatan pemutihannya tidak sekuat hidrogen peroksida.

Aplikasi bahan bleaching tersebut biasanya dengan menggunakan kuas, tetapi ada juga yang menggunakan alat spray. Reaksi oksidasi pada proses bleaching akan lebih baik apabila ada panas, karena itu biasanya setelah aplikasi  bahan A dan B tersebut kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Apabila hasil yang didapat masih kurang putih, maka proses tersebut dapat diulangi lagi sampai diperoleh hasil yang diinginkan Setelah aplikasi bahan bleaching pada kayu kemudian harus menunggu sampai bahan kimia tersebut selesai bereaksi dan benar-benar kering yaitu paling tidak diperlukan waktu sekitar 24 jam. Akan lebih baik apabila setelah proses bleaching dilakukan pencucian untuk menghilangkan bahan-bahan bleaching yang ada di permukaan. Bleaching dengan hidrogen peroksida sebaiknya dicuci dengan larutan asam cuka, sedangkan asam oksalat dicuci dengan baking soda (soda api) sedangkan klorin cukup dicuci dengan air.

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses bleaching:
  • Bleaching adalah proses yang tidak mudah, karena itu sebisa mungkin dihindari. Sedapat mungkin carilah kayu dengan warna yang muda untuk warna-warna yang muda, karena itu akan lebih mudah dan jauh lebih cepat pada proses pengerjaannya.
  • Proses bleaching harus dilakukan secara hati-hati, bahan-bahan bleaching merupakan bahan kimia yang berbahaya. Proses bleaching harusnya  dilakukan di ruang terbuka, atau di suatu ruangan yang mempunyai sirkulasi udara yang baik. Cairan bleaching merupakan bahan yang beracun, karena itu sedapat mungkin jangan sampai kena kulit atau anggota badan, seangkan uap yang dihasilkan sedapat mungkin juga jangan terhirup oleh manusia. Selalu gunakan alat-alat pelindung seperti sarung tangan dan masker pada saat melakukan bleaching.
  • Pastikan bahwa proses bleaching sudah benar-benar kering sebelum diteruskan dengan proses berikutnya. Sisa-sisa bahan bleaching yang belum kering akan menimbulkan banyak masalah pada proses finishing.
  • Proses bleaching akan membuat permukaan kayu menjadi kasar lagi karena adanya bulu-bulu kayu yang naik lagi akibat dari proses pembasahan kayu, karena itu sesudah proses bleaching diperlukan proses pengamplasan lagi pada permukaan kayu. Pengamplasan harus cukup untuk menghasilkan permukaan yang halus, tetapi tidak boleh terlalu banyak karena akan menghilangkan lapisan permukaan yang putih dan akan keluar permukaan kayu yang berwarna tua lagi.
  • Untuk kayu laminasi atau veneer, bleaching harus dilakukan dengan hati-hati, karena bleaching adalah larutan dalam air yang akan membasahi kayu, apabila lem yang digunakan kurang kuat maka akan berakibat pada delaminasi atau rusaknya pengeleman yang menyebabkan terbukanya sambungan kayu atau veneer