Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Porositas kayu dan pengaruhnya di proses finishing

Porositas kayu dalah daya penyerapan kayu terhadap cairan yang diaplikasikan di permukaannya. Porositas kayu seringkali dikaitkan dengan kekerasan kayu, biasanya kayu-kayu yang keras biasanya memiliki porositas yang rendah dan sebaliknya kayu dengan porositas tinggi adalah kayu-kayu yang lunak. Namun demikian sebenarnya tidak selalu demikian, tidak bisa selalu dipastikan bahwa porositas kayu selalu berbanding terbalik dengan kekerasan kayu, kenyataannya ada beberapa kayu yang keras memiliki porositas tinggi dan sebaliknya. Selain kekerasan kayu, porositas kayu juga dipengaruhi oleh beberapa sifat kayu yang lain seperti : struktur pori dan serat kayu. 

porositas kayu

warna tidak rata akibat dari perbedaan porositas kayu 

Pengaruh porositas kayu pada proses finishing.

Porositas kayu akan berpengaruh terhadap penyerapan bahan finishing yang diaplikasikan pada permukaan kayu. Kayu-kayu dengan porositas yang tinggi akan menyerap bahan finishing lebih banyak dan hal ini akan mempengaruhi hasil finishing. Pada aplikasi stain, penyerapan stain yang tinggi, akan cenderung membuat warna menjadi tua atau gelap. Karena itu pada kayu dengan porositas tinggi, aplikasi stain bisa saja menghasilkan warna yang tua atau gelap tidak seperti yang diinginkan. Sedangkan pada aplikasi clear coat porositas kayu yang tinggi akan berpengaruh pada ketebalan dan kehalusan lapisan film di permukaan dan gloss dari finishing. Porositas yang tinggi akan membuat aplikasi clear coat akan banyak terserap ke dalam kayu dan tidak menyisakan lapisan film di permukaan dan hal ini akan mengakibatkan permukaan yang kasar, tidak rata atau lapisan film yang tipis. Untuk itu dibutuhkan aplikasi clear coat extra untuk menghasilkan lapisan film yang rata, halus dengan gloss yang diinginkan.
Masalah porositas kayu ini menjadi semakin rumit pada saat porositas kayu bervareasi pada permukaan kayu. Kayu yang sama bisa memiliki porositas yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan hal ini akan lebih menyulitkan proses finishing untuk menghasilkan permukaan finishing yang sama sesuai dengan keinginan.  kondisi ini aplikasi bahan finishing yang sama akan menghasilkan hasil finishing yang berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat yang lain. Warna yang tidak rata, kehalusan yang yang tidak sama dan gloss yang tidak sama antara satu tempat dengan tempat lainnya. Untuk itu, maka para pelaku industri finishing mesti bisa mengenali masalah porositas kayu ini dan kemudian mengantisipasinya supaya tidak menimbulkan masalah finishing. 

Berikut ini beberapa hal yang dilakukan untuk mengatasi masalah porositas kayu.
  •  Proses pengamplasan yang baik
Pada kenyataanya, masalah porositas kayu ini sebagian besar terjadi karena proses pengamplasan yang tidak sempurna. Untuk mendapatkan hasil finishing yang bagus, maka permukan kayu harus diamplas dengan kehalusan tertentu dan rata di seluruh tempat. Permukaan kayu yang terlalu kasar akan menaikkan porositas permukaan kayu, sebaliknya permukaan yang terlalu halus dan licin akan menurunkan porositas yang semuanya akan menimbulkan masalah finishing. Karena itu pengamplasan kayu harus dilakukan dengan baik dan dengan kontrol yang baik untuk menghasilkan permukaan halus dan rata, untuk mengetahui pebih lengkap mengenai proses pengamplasan kayu, silakan lihat di : pengamplasan kayu 
  • Glue atau sealer sizing
Ada beberapa jenis kayu yang lunak dan tidak rata yang seringkali menimbulkan masalah pada proses finishing terutama jika kita mau mengaplikasikan stain langsung pada permukan kayu. Untuk itu bisa dilakukan proses sizing, yaitu aplikasi sealer tipis di permukaan sebelum amplas final. Ada 2 jenis bahan yang bisa digunakan yaitu bahan lem kayu atau sealer (clear coat). Jika yang digunakan adalah lem, maka prosesnya dinamakan glue sizing, lapisan lem kayu yang encer diaplikasikan di permukaan kayu dengan spray atau kuas, kemudian tunggu sampai lapisan lem tersebut kering. Setelah lapisan lem kering, maka permukaan kayu akan menjadi kasar karena bulu-bulu dan serat-serat kayu yang mengeras dan naik ke permukaan. Kemudian begitu dilakukan pengamplasan yang baik, maka seluruh bulu-bulu kayu akan terpotong dan menghasilkan permukaan yang rata dan halus. Hal yang sama bisa dilakukan dengan menggunakan bahan berupa sealer atau top coat encer. Glue atau sealer sizing ini harus dilakukan dengan hati-hati, bahan yang digunakan untuk sizing harus bisa cocok (kompatibel ) dengan bahan finishing yang akan digunakan di atasnya. Bahan sealer atau lem yang digunakan dengan kontrol yang tepat sesuai kebutuhan, lapisan sizing yang terlalu tebal akan mengganggu penyerapan stain dan bahan finishing diatasnya dan membuat pewarnaan menjadi susah dilakukan dan mengganggu penampilan finishing yang dihasilkan.
  • Aplikasi stain di atas sealer
Semua masalah pewarnaan akibat dari varerasi porositas kayu ini hanya terjadi apabila pewarnaan (aplikasi stain) dilakukan langsung pada permukaan kayu. Masalah porositas kayu pada lapisan film akan mudah diatasi dengan melakukan pengulangan aplikasi clear coat dan pengamplasan sehingga diperoleh permukaan yang halus dan rata. Pada saat pemukaan film sudah rata, maka pewarnaan bisa dilakukan di atasnya apabila dibutuhkan. Namun demikian pewarnaan di atas sealer ini tidak akan bisa menghasilkan warna yang alami sesuai dengan karakter kayu seperti pada pewarnaan langsung pada kayu. Perwarnaan di atas sealer juga cenderung lebih cepat pudar sehingga setelah beberapa waktu tertentu, warna cenderung menjadi muda dan kembali pada warna kayu. Namun demikian proses ini bisa juga dipilih, karena ada juga beberapa orang yang bisa menerima hasil finishing seperti ini. Proses finishing dengan pewarnaan stain diatas sealer bisa menjadi salah satu pilihan yang baik untuk kayu-kayu yang lunak dan mempunyai masalah dengan porositas. 
Perlu diketahui bahwa aplikasi stain di atas sealer harus dilakukan dengan hati-hati karena lebih sulit dilakukan. Spray stain yang terlalu tebal akan membuat stain meleleh, mengalir (sagging) di permukaan. Aplikasi stain mesti dilakukan dengan spray tipis-tipis, tidak terlalu basah, dan tidak boleh terlalu tebal. Lakukan aplikasi sealer untuk menutup dan mengikat stain ketika lapisan stain sudah tebal, bila diperlukan stain bisa ditambahkan di atas lapisan sealer tersebut. Aplikasi stain yang terlalu tebal, selain beresiko menghasilkan masalah warna juga beresiko mengganggu kekuatan lapisan finishing dan menimbulkan masalah baru seperti lapisan finishing yang retak atau adhesi finishing yang tidak bagus.


Buku yang berisi pengetahuan dan praktek-praktek praktis mengenai finishing mebel
Merupakan salah satu buku wajib bagi anda pelaku dan pemerhati finishing mebel

 more info : klik disini